Saturday, July 5, 2014

TADARRUS QURAN SEPANJANG MASA (TQSM)



BAB I

PENDAHULUAN

Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada nabi kita Muhammad selama 23 tahun. Ia adalah kitab suci umat Islam yang merupakan sumber petunjuk dalam beragama dan pembimbing dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
Adalah merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk selalu berinteraksi aktif dengan Al-Qur’an, menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir dan bertindak.
Membaca ( Tadarrus ) Al-Qur’an merupakan langkah pertama dalam berinteraksi dengan Al Quran, kemudian diteruskan dengan tadabbur, yaitu dengan merenungkan dan memahami maknanya sesuai petunjuk salafus shalih, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dilanjutkan dengan mengajarkannya.
Disamping kita Membaca ( Tadarrus ) Al Quran, kita juga dianjurkan pula untuk berusaha menghafalnya dan menjaga hafalan tersebut agar jangan terlupakan, karena hal itu merupakan salah satu bukti nyata bahwa Allah SWT berjanji akan menjaga Al-Qur’an dari perubahan dan penyimpangan seperti kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Salah satu bukti terjaganya Al-Qur’an adalah tersimpannya di dada para penghafal Al-Qur’an dari berbagai penjuru dunia.

 

 

 

 

 

 

BAB II

KEUTAMAAN MEMBACA (TADARRUS)  AL QURAN
A.    DALIL TENTANG PERINTAH DAN KEUTAMAAN MEMBACA AL QURAN
·         BEBERAPA DALIL PERINTAH MEMBACA AL QURAN : 
Banyak anjuran dan keutamaan membaca Al-Qur’an, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah, di antara perintah membaca Al-Qur’an adalah firman Allah SWT :
“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (Al-Qur’an).” (QS. Al-Kahfi : 27)
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an).” (QS. Al-Ankabut :45)
·         BEBERAPA DALIL SUNAH RASULULLAH SAW KEUTAMAAN MEMBACA AL QURAN : 
Dalail keutamaan membaca Al-Qur’an dari sunnah Rasulullah SAW adalah :
1.      Menjadi manusia terbaik.
Dari Utsman bin ‘Affan ra, Nabi SAW bersabda :
“Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” HR. Al-Bukhari
2.      Kenikmatan yang tiada bandingnya.
Dari Abdullah bin Umar ra, Nabi SAW bersabda :
“Tidak boleh ghibthah (menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain) kecuali dalam dua hal : (pertama) orang yang diberikan Allah SWT keahlian tentang Al-Qur’an, maka dia melaksanakannya (membaca dan mengamalkannya) malam dan siang hari. Dan seorang yang diberi Allah SWT kekayaan harta, maka ia infakkan sepanjang hari dan malam.” Muttafaqun alaih.
3.      Al-Qur’an memberi syafaat di hari kiamat.
Dari Abu Umamah Al-Bahili ra, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi ahlinya (yaitu orang-orang yang membacanya, mempelajari dan mengamalkannya).” HR. Muslim.
4.   Pahala berlipat ganda.
Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘alif laam miim’ satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” HR. At-Tirmidzi.
5.   Dikumpulkan bersama para malaikat.
Dari Aisyah ra, ia berkata, ‘Nabi Muhammad SAW bersabda : “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” HR. Bukhari-Muslim
7.      Diangkat derajatnya oleh Allah SWT.
Umar bin Khattab ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim)
8.      Dapat ketenangan dan rahmat dari Allah SWT.
Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, akan dilingkupi pada diri mereka dengan rahmat, akan dilingkari oleh para malaikat dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka pada makhluk yang ada di dekat-Nya.” (HR. Muslim)
8.   Khatam Al-Qur’an adalah amalan yang paling dicintai Allah SWT.
Ibnu Abbas ra berkata bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai, ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi)
9.      Mendapatkan shalawat dan doa dari malaikat.
Sa’ad bin Abi Waqas berkata, “Apabila Al-Qur’an dikhatamkan bertepatan pada permulaan malam, maka malaikat akan bershalawat (berdoa) untuknya hingga subuh. Dan apabila khatam bertepatan pada akhir malam, maka malaikat akan bershalawat dan berdoa untuknya hingga sore hari.” (HR. Ad-Darimi)



A.    MEMBACA ( TADARRUS )  AL QUR’AN 

Kata Tadarrusan Al Quran sudah tidak asing lagi bagi telingga kita. Hal ini dapat kita saksikan dimana sering dilakukan pada bulan suci Ramadhan baik di Masjid, Musholla perumahan maupun kantor  dan memang pada bulan suci tersebut sangat dianjurkan bagi umat Islam khususnya, begitu pula anjuran ini berlaku pula pada bulan bulan setelah bulan Ramadhan.
                       
                        Secara garis besar, TADARUSAN adalah membaca al-Qur'an secara bergiliran melibatkan dua pihak (pembaca dan penyimak) dengan mengeraskan suara.

Tentang hukum membaca al-Qur'an dengan bergiliran seperti itu, maka
Imam Nawawi, dalam kitab beliau, at-Tibyan (sebuah kitab salaf yang menerangkan tentang adab dan tata cara menjaga al-Qur'an) menjelaskan sebagai berikut:

"[Pasal : membaca al-Qur'an sambung-menyambung secara bergantian]
Yaitu sejumlah orang berkumpul, sebagian dari mereka membaca sepuluh ayat atau sebagian atau selain itu, kemudian diam (menyimak) dan yang lain meneruskan pembacaan, kemudian yang lain membaca. Ini adalah boleh dan baik. Imam Malik telah ditanya dan beliau menjawab: "Tidak ada masalah dengan hal seperti ini".

Imam Nawawi menjelaskan perihal "KEBAIKAN" dalam TADARUSAN ini. Namun memang ada saja segelintir orang yang membid'ahkan TADARUS-AN yang sudah jelas ini adalah amalan salafuna as-Saleh.

Tadarrus Al Quran dapat menghidupkan syiar Islam. Dalam Tadarrus ini dianjurkan agar bersuara hingga terdengar oleh jamaah atau pembaca lainnya yang tentunya tetap menjaga adab dan mengutamakan keikhlasan dalam membacanya dalam arti menghindari diri dari sifat riya’..

Tentang hal ini diperjelas oleh pendapat Ulama Imam Nawawi dalam kitabnya At Tibyan, dimana beliau menjelaskan secara terperinci, dengan menghadirkan pendapat ulama, seperti yang tertera dalam kutipan  keterangan beliau berikut di bawah ini , yang artinya:

bahwa memelankan suara lebih jauh daripada riya. Merendahkan suara lebih utama bagi orang yang takut berbuat riya. Jika tidak takut berbuat riya, maka MENGERASKAN SUARA LEBIH BAIK karena lebih banyak diamalkan dan berfaedah meluas kepada orang lain.

Maka yang demikian (mengeraskan suara hingga terdengar orang lain) LEBIH BAIK dari pada yang hanya mengenai diri sendiri. Dan karena bacaan dengan suara keras menggugah hati pembaca dan mengarahkan pendengarannya kepadanya, sehingga bisa dapat saling memperbaiki bacaan yang mungkin kurang sempurna , atau dapat menggugah orang lain yang lalai  sehingga dapat menyadarkannya"

Banyak riwayat yang menyebutkan tentang anjuran mengeraskan suara. Imam Nawawi dalam kitab beliau ini, mengemukakan beberapa hadits yang berkaitan dengan hal ini. Diantaranya, hadits yang diriwayatkan dalam kitab shahih dari Abu Hurairah, sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah ra. beliau berkata, "aku mendengar Rasulullah Bersabda, "Tidaklah Allah mendengarkan sesuatu seperti yang didengarkan-Nya dari seorang Nabi yang bagus suaranya dalam membaca al-Qur'an dan MENGERASKAN SUARANYA." (HR. Bukhari da Muslim)

Dan dari Abu Musa (al-Asy'ri ra.) bahwa Rasulullah bersabda, "Sungguh aku mengenal suara rombongan al-As'ariy di waktu malam ketika mereka masuk dan aku mengenal tempat-tempat mereka dari suara mereka ketika membaca al-Qur'an di waktu malam, meskipun aku tidak melihat tempat-tempat mereka ketika mereka berhenti di siang hari," (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian maka jelas bahwa TADARUS-AN dengan mengeraskan suara bukanlah  bid’ah , justru inilah amalan sunnah. Hal ini diperjelas pula dalam keterangan Imam Nawawi dalam kitab at-Tibyan tersebut :

"Saya (Imam Nawawi) katakan, semua itu sesuai dengan rincian yang saya jelaskan secara terperinci di awal pasal ini. Jika takut mengalami sesuatu yang tidak diinginkan dengan sebab mengeraskan suaranya, maka janganlah mengeraskan suara. Jika tidak takut mengalami hal itu, DIANJURKAN MENGERASKAN SUARA. Bilamana pembacaan dilakukan oleh jama'ah secara BERSAMA-SAMA, maka DIANJURKAN DENGAN SANGAT agar MENGERASKAN SUARA mengingat karena dapat bermanfaat bagi orang lain.


Membaca Al-Qur’an merupakan identitas dan kebutuhan setiap muslim, karena Al-Qur’an adalah jalan hidup setiap muslim.
Untuk pengembangan lebih lanjut memang tidak cukup hanya bertadarrus, namun harus diiringi dengan pemahaman akan makna dan kandungan dalam ayat yang kita baca. Untuk itu Majlis Talim Arahim memberikan Talim kepada para Remaja yang dilaksanakan pada setiap malam Senin, bada Maghrib sampai waktu Isya (berjamaah), dengan tempat yang berpindah dari rumah ke rumah secara bergilir.  ( tempat pelaksanaan sesuai jadwal yang telah ditentukan )
 
Demikianlah sebagian di antara keutamaan membaca (Tadarrus) dan menghafal Al-Qur’an, semoga bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadikan kita semakin dekat dengan cahaya iman. Aamin  Yaa Robbal aalamiiin. Wallahu a’lam.




C.    TEKNIS TADARRUS AL QURAN

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………


            -------------------------------------------------------------------------------------------------------
DAFTAR PUSTAKA
Diedit kembali oleh ihsan_faiz@yahoo.com , fauzi agh



TADARRUS QURAN SEPANJANG MASA ( TQSM )



BAB I

PENDAHULUAN

Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada nabi kita Muhammad selama 23 tahun. Ia adalah kitab suci umat Islam yang merupakan sumber petunjuk dalam beragama dan pembimbing dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
Adalah merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk selalu berinteraksi aktif dengan Al-Qur’an, menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir dan bertindak.
Membaca ( Tadarrus ) Al-Qur’an merupakan langkah pertama dalam berinteraksi dengan Al Quran, kemudian diteruskan dengan tadabbur, yaitu dengan merenungkan dan memahami maknanya sesuai petunjuk salafus shalih, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dilanjutkan dengan mengajarkannya.
Disamping kita Membaca ( Tadarrus ) Al Quran, kita juga dianjurkan pula untuk berusaha menghafalnya dan menjaga hafalan tersebut agar jangan terlupakan, karena hal itu merupakan salah satu bukti nyata bahwa Allah SWT berjanji akan menjaga Al-Qur’an dari perubahan dan penyimpangan seperti kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Salah satu bukti terjaganya Al-Qur’an adalah tersimpannya di dada para penghafal Al-Qur’an dari berbagai penjuru dunia.

BAB II

KEUTAMAAN MEMBACA (TADARRUS)  SERTA MENGHAPAL  AL QURAN
A.    DALIL TENTANG PERINTAH DAN KEUTAMAAN MEMBACA AL QURAN
·         BEBERAPA DALIL PERINTAH MEMBACA AL QURAN :
Banyak anjuran dan keutamaan membaca Al-Qur’an, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah, di antara perintah membaca Al-Qur’an adalah firman Allah SWT :
“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (Al-Qur’an).” (QS. Al-Kahfi : 27)
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an).” (QS. Al-Ankabut :45)
·         BEBERAPA DALIL SUNAH RASULULLAH SAW KEUTAMAAN MEMBACA AL QURAN :
Dalail keutamaan membaca Al-Qur’an dari sunnah Rasulullah SAW adalah :
1.      Menjadi manusia terbaik.
Dari Utsman bin ‘Affan ra, Nabi SAW bersabda :
“Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” HR. Al-Bukhari
2.      Kenikmatan yang tiada bandingnya.
Dari Abdullah bin Umar ra, Nabi SAW bersabda :
“Tidak boleh ghibthah (menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain) kecuali dalam dua hal : (pertama) orang yang diberikan Allah SWT keahlian tentang Al-Qur’an, maka dia melaksanakannya (membaca dan mengamalkannya) malam dan siang hari. Dan seorang yang diberi Allah SWT kekayaan harta, maka ia infakkan sepanjang hari dan malam.” Muttafaqun alaih.
3.      Al-Qur’an memberi syafaat di hari kiamat.
Dari Abu Umamah Al-Bahili ra, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi ahlinya (yaitu orang-orang yang membacanya, mempelajari dan mengamalkannya).” HR. Muslim.
4.   Pahala berlipat ganda.
Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘alif laam miim’ satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” HR. At-Tirmidzi.
5.   Dikumpulkan bersama para malaikat.
Dari Aisyah ra, ia berkata, ‘Nabi Muhammad SAW bersabda : “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” HR. Bukhari-Muslim
7.      Diangkat derajatnya oleh Allah SWT.
Umar bin Khattab ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim)
8.      Dapat ketenangan dan rahmat dari Allah SWT.
Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, akan dilingkupi pada diri mereka dengan rahmat, akan dilingkari oleh para malaikat dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka pada makhluk yang ada di dekat-Nya.” (HR. Muslim)
8.   Khatam Al-Qur’an adalah amalan yang paling dicintai Allah SWT.
Ibnu Abbas ra berkata bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai, ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi)
9.      Mendapatkan shalawat dan doa dari malaikat.
Sa’ad bin Abi Waqas berkata, “Apabila Al-Qur’an dikhatamkan bertepatan pada permulaan malam, maka malaikat akan bershalawat (berdoa) untuknya hingga subuh. Dan apabila khatam bertepatan pada akhir malam, maka malaikat akan bershalawat dan berdoa untuknya hingga sore hari.” (HR. Ad-Darimi)



A.    MEMBACA ( TADARRUS )  AL QUR’AN 

Kata Tadarrusan Al Quran sudah tidak asing lagi bagi telingga kita. Hal ini dapat kita saksikan dimana sering dilakukan pada bulan suci Ramadhan baik di Masjid, Musholla perumahan maupun kantor  dan memang pada bulan suci tersebut sangat dianjurkan bagi umat Islam khususnya, begitu pula anjuran ini berlaku pula pada bulan bulan setelah bulan Ramadhan.
                       
                        Secara garis besar, TADARUSAN adalah membaca al-Qur'an secara bergiliran melibatkan dua pihak (pembaca dan penyimak) dengan mengeraskan suara.

Tentang hukum membaca al-Qur'an dengan bergiliran seperti itu, maka
Imam Nawawi, dalam kitab beliau, at-Tibyan (sebuah kitab salaf yang menerangkan tentang adab dan tata cara menjaga al-Qur'an) menjelaskan sebagai berikut:

"[Pasal : membaca al-Qur'an sambung-menyambung secara bergantian]
Yaitu sejumlah orang berkumpul, sebagian dari mereka membaca sepuluh ayat atau sebagian atau selain itu, kemudian diam (menyimak) dan yang lain meneruskan pembacaan, kemudian yang lain membaca. Ini adalah boleh dan baik. Imam Malik telah ditanya dan beliau menjawab: "Tidak ada masalah dengan hal seperti ini".

Imam Nawawi menjelaskan perihal "KEBAIKAN" dalam TADARUSAN ini. Namun memang ada saja segelintir orang yang membid'ahkan TADARUS-AN yang sudah jelas ini adalah amalan salafuna as-Saleh.

Tadarrus Al Quran dapat menghidupkan syiar Islam. Dalam Tadarrus ini dianjurkan agar bersuara hingga terdengar oleh jamaah atau pembaca lainnya yang tentunya tetap menjaga adab dan mengutamakan keikhlasan dalam membacanya dalam arti menghindari diri dari sifat riya’..

Tentang hal ini diperjelas oleh pendapat Ulama Imam Nawawi dalam kitabnya At Tibyan, dimana beliau menjelaskan secara terperinci, dengan menghadirkan pendapat ulama, seperti yang tertera dalam kutipan  keterangan beliau berikut di bawah ini , yang artinya:

bahwa memelankan suara lebih jauh daripada riya. Merendahkan suara lebih utama bagi orang yang takut berbuat riya. Jika tidak takut berbuat riya, maka MENGERASKAN SUARA LEBIH BAIK karena lebih banyak diamalkan dan berfaedah meluas kepada orang lain.

Maka yang demikian (mengeraskan suara hingga terdengar orang lain) LEBIH BAIK dari pada yang hanya mengenai diri sendiri. Dan karena bacaan dengan suara keras menggugah hati pembaca dan mengarahkan pendengarannya kepadanya, sehingga bisa dapat saling memperbaiki bacaan yang mungkin kurang sempurna , atau dapat menggugah orang lain yang lalai  sehingga dapat menyadarkannya"





Banyak riwayat yang menyebutkan tentang anjuran mengeraskan suara. Imam Nawawi dalam kitab beliau ini, mengemukakan beberapa hadits yang berkaitan dengan hal ini. Diantaranya, hadits yang diriwayatkan dalam kitab shahih dari Abu Hurairah, sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah ra. beliau berkata, "aku mendengar Rasulullah Bersabda, "Tidaklah Allah mendengarkan sesuatu seperti yang didengarkan-Nya dari seorang Nabi yang bagus suaranya dalam membaca al-Qur'an dan MENGERASKAN SUARANYA." (HR. Bukhari da Muslim)

Dan dari Abu Musa (al-Asy'ri ra.) bahwa Rasulullah bersabda, "Sungguh aku mengenal suara rombongan al-As'ariy di waktu malam ketika mereka masuk dan aku mengenal tempat-tempat mereka dari suara mereka ketika membaca al-Qur'an di waktu malam, meskipun aku tidak melihat tempat-tempat mereka ketika mereka berhenti di siang hari," (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian maka jelas bahwa TADARUS-AN dengan mengeraskan suara bukanlah  bid’ah , justru inilah amalan sunnah. Hal ini diperjelas pula dalam keterangan Imam Nawawi dalam kitab at-Tibyan tersebut :

"Saya (Imam Nawawi) katakan, semua itu sesuai dengan rincian yang saya jelaskan secara terperinci di awal pasal ini. Jika takut mengalami sesuatu yang tidak diinginkan dengan sebab mengeraskan suaranya, maka janganlah mengeraskan suara. Jika tidak takut mengalami hal itu, DIANJURKAN MENGERASKAN SUARA. Bilamana pembacaan dilakukan oleh jama'ah secara BERSAMA-SAMA, maka DIANJURKAN DENGAN SANGAT agar MENGERASKAN SUARA mengingat karena dapat bermanfaat bagi orang lain.

B.     KEUTAMAAN MENGHAFAL AL-QUR’AN
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya dan Kami pula yang akan benar-benar memeliharanya.” (QS. Al- Hijr [15] : 9)
Sebagaimana ayat di atas, hal ini merupakan janji Allah SWT yang akan selalu menjaganya sampai hari kiamat. Salah satu penjagaan Allah SWT terhadap Al-Qur’an adalah dengan memuliakan para penghafalnya. Rasulullah SAW bersabda, “Penghafal Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Qur’an akan berkata : ‘Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia.’ Kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan). Al-Qur’an kembali meminta : ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah.’ Maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al-Qur’an memohon lagi : ‘Wahai Tuhanku, ridhailah dia.’ Maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu : ‘Bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga).’ Dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.” (HR. Tirmidzi dan Abu Hurairah)


Menghafal Al-Qur’an merupakan identitas dan kebutuhan setiap muslim, karena Al-Qur’an adalah jalan hidup setiap muslim. Tanpa adanya hafalan Al-Qur’an, seseorang tidak akan pernah terisi oleh ruh ajaran agama. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang tidak mempunyai hafalan Al-Qur’an sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh.” (HR. Tirmidzi)
Menghafal Al-Qur’an baiknya tidak hanya lafadznya, namun harus diiringi dengan pemahaman dan pengamalan. Imam Malik dalam kitabnya Al-Muwatha menceritakan bahwa Ibnu Umar membutuhkan waktu bertahun-tahun, malah ada yang mengatakan delapan tahun lamanya, hanya untuk menghafal Al-Baqarah. Allah SWT berfirman, “Janganlah engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.” (QS. Al-Qiyamah [75] : 16).
Mengenai sebab turunnya ayat tersebut, Imam Bukhari mengeluarkan hadits dari Ibnu Abbas ra yang berkata bahwa setiap turun wahyu, Rasulullah SAW suka menggerak-gerakkan lisannya dengan maksud ingin cepat menghafalnya. Kemudian, Allah SWT menurunkan ayat tersebut. Tentunya, melafadzkan Al-Qur’an saja sudah mendapatkan pahala, apalagi diiringi dengan pemahaman dan pengamalan.
Demikianlah sebagian di antara keutamaan membaca (Tadarrus) dan menghafal Al-Qur’an, semoga bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadikan kita semakin dekat dengan cahaya iman. Aamin  Yaa Robbal aalamiiin. Wallahu a’lam.




C.    TEKNIS TADARRUS AL QURAN

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………


            -------------------------------------------------------------------------------------------------------
DAFTAR PUSTAKA
Diedit kembali oleh ihsan_faiz@yahoo.com , fauzi agh