Ustadz kita Achmad Bukhori LC, MA membacakan kitab tentang kisah seorang pemuda yang gemar maksiat dan datang kepada seorang Ulama Sufi yang mahsyur yaitu Ibrahim bin Adham untuk minta nasihat, oleh Ulama Sufi tersebut diberikan nasihat, kamu boleh maksiat dengan Lima syarat ;
1. jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezekinya.
Mendengar itu dia mengernyitkan kening seraya berkata, ”Lalu aku mau
makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah? ”Ya,”
tegas Ibrahim bin Adham. ”Kalau kamu sudah memahaminya, masih pantaskah
memakan rezekinya, sementara kamu selalu berkeinginan melanggar
larangan-Nya?”
2. kalau mau bermaksiat, jangan tinggal dibumi-Nya!
Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati. Ibrahim kembali
berkata kepadanya, ”Wahai Abdullah, pikirkanlah, apakah kamu layak
memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kamu melanggar
segala larangan-Nya?” ”Ya, Anda benar,” kata lelaki itu.
3. Kalau kamu masih mau bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!
Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, ”Wahai Ibrahim, ini nasihat
macam apa? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?” ”Nah, kalau memang
yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?” kata
Ibrahim.
4. Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu,katakanlah kepadanya,
‘Mundurkan kematianku dulu. Aku masih mau bertobat dan melakukan amal
saleh’.”
Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar, ”Wahai
Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku?” ”Wahai
Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda dan
mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa lari dari
murka Allah?”
5.”Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak menggiringmu ke
api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau mau ikut bersamanya.”
Perkataan tersebut membuat lelaki itu tersadar. Dia berkata, ”Wahai Aba
Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak
kehendaknya.” Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air
matanya bercucuran. ”Mulai saat ini aku bertobat kepada Allah,” katanya
sambil terisak.
(Rumah Akhi Achmad Fauzi depan Musholla Darul Ali, Pancoran Barat, 5 Mei 2013)